Rabu, 27 November 2019

Melihat Rasa dan Mendengar Kopi di Kopi Tuli

Penulis dengan Mbak Putri, founder dari Kopi Tuli 

Akhirnya, setelah berjibaku dengan tugas yang luar binasa (eh) biasa banyak, dan sempat drop selama beberapa hari, saya dapat kembali menulis dalam blog saya ini. Kali ini, saya tidak akan membahas politik, ataupun mengkritik para elit politik. Tapi kali ini saya akan membahas satu sosok inspiratif, yang berhasil membuat saya speechless dengan cerita beliau. Ini dia!
Nama beliau Mbak Putri. Beliau adalah salah satu dari tiga pendiri kedai kopi "Kopi Tuli". Kenapa nama kedainya "Kopi Tuli"? Ternyata, usut punya usut, karyawan dari kedai kopi ini adalah teman-teman yang memiliki disabilitas tuli. Ternyata, bukan hanya karyawannya saja, namun, ternyata pendiri dari kedai kopi ini, sama. (jujur, saya merasa kagum dengan beliau, karena dibalik keterbatasannya, beliau mampu membuat bisnis yang sangat hebat.) Kedai Kopi Tuli, berdiri sejak 12 Mei 2018, dengan cabang pertamanya di Limo, Depok, Jawa Barat. Saat ini, kedai kopi ini sudah memiliki 2 cabang, cabang kedua, terdapat di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan. Cabang kedua ini, berdiri sejak 14 Oktober 2018 (foto diambil di cabang kedua, di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan). Awal mula berdirinya kedai kopi ini, adalah berasal dari kekecewaan Mbak Putri, karena ditolak saat melamar pekerjaan dikarenakan disabilitas yang beliau miliki. Berangkat dari kekecewaan itu, Beliau memutuskan untuk membuka bisnis. Bersama dengan dua orang temannya, Mas Adhika dan Mas Erwin. Ada cerita unik didalamnya, suatu hari, beliau mendapatkan pesan dari Mas Adhika, yang bertanya tentang bisnis apa yang bagus, kemudian, Beliau bertanya tentang hobi dari Mas Adhika. Mas Adhika mengatakan bahwa beliau sangat suka minum kopi, dan akhirnya, mereka setuju untuk membuat usaha kopi. Nah, tujuan dibuatnya kedai ini adalah selain untuk menciptakan lapangan kerja bagi teman-teman disabilitas tuli, adalah untuk mengajarkan bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) kepada teman-teman dengar. Jumlah karyawan di seluruh kedai kopi ini berjumlah enam orang, dengan rincian empat orang ditempatkan di kawasan Duren Tiga, dan dua orang ditugaskan di cabang Limo, Depok Jawa Barat. Hambatan yang paling besar adalah dalam hal komunikasi. Mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Selain dengan bahasa isyarat, mereka juga melihat gestur tubuh dan gerak bibir untuk berkomunikasi. Nah, bicara soal menunya, pun tidak kalah unik dengan nama kedainya. Ada Kopi Susu Koso, Kopi Susu Wings, Kopi Susu Siput, Laut Biru, Daun Susu, Kopi Susu Tanah, Matahari, Marmer Hitam, Kopi Awan, Tanah Susu, dan masih banyak lagi. Total ada dua belas minuman yang bisa dipesan di kedai ini. Nah, kata Mbak Putri, semua nama menu dalam kedai Kopi Tuli ini terinspirasi dari alam. (bukan alam penyanyi ya!) Kecuali Kopi Susu Koso, Kopi Susu Wings dan Kopi Susu Siput yang diambil dari nama tiga orang pendiri kedai ini, yaitu, Adhika Prakoso, Erwin, dan Putri. Rencananya, cabang ketiga akan dibuka di kawasan Bintaro Jakarta Selatan.
Semoga menginspirasi ya, dan jangan lupa datang ke kedai Kopi Tuli! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bukan Sekadar Ijab Kabul: Menghidupkan Makna Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah dalam Pernikahan

 Hello world! Semoga sehat dan bahagia. Kali ini saya akan sedikit membahas tentang apa itu sakinah, mawaddah, wa rahmah, dalam pernikahan. ...