Kali ini, saya tertarik untuk membahas tentang dunia pendidikan. Alhamdulillah, saya diberikan kesempatan untuk berkecimpung di dunia ini (kalau tidak berkecimpung di dunia ini, percayalah, saya sudah berada di alam yang lain). Owkey, yang saya maksud dunia disini adalah dunia pendidikan, bukan dunia lain (karena kalau dunia lain, itu acara tentang makhluk ghoib). Permasalahan yang akan saya bahas secara singkat ini, (karena kalau bahasnya panjang kali lebar kali tinggi itu adalah rumus matematika) adalah tentang sistem pendidikan di sekolah, membangkitkan semangat peserta didik, atau malah membunuhnya? (maksud membunuhnya adalah membunuh semangatnya, karena kalau membunuh muridnya, insya Allah auto masuk hotel prodeo) dan juga tentunya, saya akan berikan solusi terhadap masalah ini. So, check this out guys!
Berbicara mengenai dunia pendidikan di Indonesia, tentunya banyak hal yang bisa dibahas. sistem pendidikan di Indonesia, bisa dikatakan merupakan 'warisan' dari zaman kolonial dahulu, dengan menganut sistem "wajar" (wajib belajar) 12 tahun, (dahulu 9 tahun), pemerintah kita berharap akan terciptanya generasi emas Indonesia yang maju, berprestasi dan menginspirasi. Program itu dicanangkan pemerintah dalam rangka menyambut "Indonesia Emas 2045". Program itu sendiri dicanangkan pemerintah dalam rangka 100 tahun kemerdekaan Indonesia ini. Permasalahan yang timbul adalah, apakah sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia ini membangkitkan semangat peserta didik, atau malah membunuh semangatnya? Mengapa saya bilang membunuh? Karena memang, banyak guru di negara kita tercinta ini, "mematikan" semangat dan cita-cita anak muridnya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya guru yang mengharapkan anak didiknya memperhatikan penjelasan yang disampaikan. Belum lagi, kalau ada orang tua yang tidak mendukung cita-cita anaknya. Tentunya, ini sangatlah miris. Bukannya saya tidak setuju dengan sistem pendidikan ini, namun, alangkah baiknya, sistem pendidikan itu yang mendukung setiap keinginan anak didik di Indonesia ini.
Saya akan berikan ilustrasinya, Di sebuah kelas, ada seorang guru, dia tidak pernah memarahi anak muridnya ketika tidak ada yang memperhatikan dirinya menjelaskan. Satu ketika, ada anak murid yang bermain gitar saat dia sedang menjelaskan pelajaran. Lantas sang guru menghampiri anak yang sedang bermain gitar tersebut. Suasana kelas pun hening, seluruh kelas berpikir bahwa anak yang bermain gitar akan mendapatkan hukuman dari guru tersebut. Namun, apa yang terjadi? Guru tersebut berkata, "Nak, permainan gitarmu bagus, kapan mau rilis album musiknya? Nanti, Bapak minta ya? Bapak bangga punya anak murid yang pandai bermusik". Sontak saja, seisi kelas terkejut terheran-heran mendengar perkataan gurunya.
Tentunya, kenyataan yang kita hadapi sekarang ini, berbanding terbalik dengan apa yang saya sampaikan melalui ilustrasi diatas. Dimana mungkin sebagian guru, yang hanya menginginkan anak didiknya mampu menguasai kurikulum yang diajarkan, dan hanya mengejar target semata. Tentunya, ini sangat stagnan dalam arti, apabila kurikulum sudah tercapai, dan target sudah tercapai, tidak ada perkembangan skill kemampuan si anak murid. Karena memang, pada kenyataannya, skill lah yang akan lebih dominan untuk dipakai dimasa depan. Saya tidak bilang bahwa akademik itu tidak penting, namun, apabila skill dan akademik itu baik, maka Insya Allah, banyak orang yang bisa mewujudkan "Indonesia Emas 2045".
Sedikit solusi atas masalah ini, karena setiap ada masalah, harus diselesaikan dengan solusi (karena kalau mengatasi masalah tanpa masalah itu tagline pegadaian, dan kalau mengatasi masalah tanpa solusi itu tagline ILK alias Indonesia Lawak Klub). adalah:
1. Dukungan dari guru dan orang tua
Hal ini sangatlah penting, karena memang, tidak dapat dipungkiri dan tidak dapat dibantah, bahwa guru dan orang tua memiliki peran besar dalam kesuksesan anak murid. Pepatah arab mengatakan bahwa, orang tua menurunkan anak dari langit ke bumi, dan guru menaikkan anak dari bumi ke langit. maksud dari pepatah tersebut adalah: orang tua wajib mendampingi anak dengan memberikan support dan dukungan terhadap anaknya, dan guru wajib memberikan ilmu yang bermanfaat guna mendukung kesuksesan anak baik di dunia maupun di akhirat.
2. Dukungan dari pemerintah
Tentunya, ini tidak bisa dilupakan. Pemerintah sudah memberikan dukungan melalui program wajib belajar tadi, ditambah dengan Kartu Jakarta Pintar Plus, dan kartu Indonesia Pintar yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.
3. Kemauan dari diri sendiri
Ini merupakan Inti dari seluruh solusi yang saya berikan, karena apabila tidak ada kemauan, maka tidak akan terealisasikan apa yang diimpikan.
Semoga bermanfaat dan menginspirasi.. ciao..