Sabtu, 14 Maret 2020

Indonesia di Lockdown, Bagaimana Nasib Negara?

Kali ini, saya tertarik untuk membahas tentang Colorna, eh Corona maksudnya. Kali ini, ada satu berita yang cukup membuat saya cukup herman. eh, heran maksudnya. Dimana pemerintah mempertimbangkan akan melakukan lockdown terhadap Indonesia. tapi, sebelum kita bahas tentang "inovasi" pemerintah ini, saya akan jelaskan sedikit tentang lockdown, dan bedanya antara isolasi dan karantina. Menurut artikel yang saya baca dari harianhaluan.comLockdown merupakan tindakan darurat atau kondisi saat orang-orang untuk sementara waktu dicegah memasuki atau meninggalkan area atau bangunan yang telah ditentukan selama ancaman bahaya berlangsung. Kemudian, saya mengutip dari KBBI Online, isolasi adalah pemisahan suatu hal dari hal lain atau usaha untuk memencilkan manusia dari manusia lain. kemudian, untuk karantina sendiri, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) karantina adalah memisahkan dan membatasi pergerakan seseorang yang terpapar penyakit, tetapi tidak memiliki gejala. Tujuannya untuk mencegah kemungkinan adanya penyebaran penyakit.
Berbicara soal Lockdown, dimana pemerintah Indonesia mempertimbangkan untuk melakukannya, (silakan klik tulisan yang berbeda warna untuk membaca beritanya ya!) saya merasa, bahwa langkah ini merupakan suatu bukti, bahwa pemerintah terlalu panik dalam menghadapi serangan virus COVID-19 ini. (ini sekadar pendapat saya, tanpa niat mengkritik siapapun) alasan saya sederhana saja, kalau negara ini di lockdown, lantas perekonomian negara ini bisa lumpuh total, dan otomatis, negara ini seperti negara "mati", tanpa adanya aktivitas dari masyarakat yang notabene ikut membantu membangun negara. Lantas, ini yang jadi pertanyaan dalam benak saya juga, bagaimana nasib negara kita? Apakah mau seperti negara yang "mati"? Atau apa? kita lihat saja, semoga pemerintah bisa matang dalam mengambil keputusan demi keberlangsungan hidup masyarakat Indonesia.
Jikalau seandainya lockdown dilakukan pun, saya berharap kepada seluruh jajaran pemerintah, agar tetap menjamin bahwa negara akan tetap baik-baik saja.
Demikian, semoga menginspirasi. ciao...

Senin, 09 Maret 2020

KPK Matikan Nilai Religiusitas? What's Next "Innovation"?

Kali ini, setelah saya membahas virus COVID-19, saya akan membahas tentang KPK yang mematikan sisi religiusitas nya. Let's talk about it!
Hari Ahad pagi, tanggal 8 Maret 2020, saya membaca satu artikel berita yang cukup menarik perhatian saya, sebagai seorang jurnalis, mahasiswa, dan juga masyarakat Indonesia. Isi artikel yang saya baca tersebut berisi tentang KPK Hapus Nilai Religiusitas dan digantikan oleh nilai sinergi. (artikel ini tayang di website tempo dengan judul: "KPK Hapus Nilai Religiusitas, Eks Penasihat Sebut Sakaratul Maut") Silakan klik tulisan berwarna ungu untuk melihat link artikelnya ya.
Saya sebagai jurnalis, mahasiswa, dan terutama masyarakat Indonesia, merasa sangat kecewa, kepada tim ahli, yang telah menghilangkan nilai religiusitas dari kode etik KPK. Hal ini otomatis, menurut pendapat saya, merupakan satu langkah yang menunjukkan, bahwa KPK sudah tidak sesuai dengan Pancasila Indonesia, Alasan saya sederhana saja, bahwa sila pertama di dalam Pancasila ini adalah ketuhanan yang maha esa, dalam sila ini, terdapat nilai religiusitas yang sangat dijunjung oleh masyarakat Indonesia. Tapi pertanyaannya, kenapa nilai religiusitas itu harus dihilangkan? Menurut saya, itu tidak perlu dihilangkan, karena menurut saya, Nilai religiusitas (Nilai ajaran agama manapun) itu harus ada di atas hukum. (religion above law). saya rasa dalam agama manapun, tidak ada diajarkan tentang korupsi, dan segala macam praktik hal-hal yang buruk. Saya sependapat dengan eks penasihat KPK, Bapak Abdullah Hehamahua yang mengatakan, bahwa matinya nilai religiusitas ini merupakan "bom waktu" kehancuran KPK.
Semoga saja, hal ini tidak terjadi, karena KPK merupakan ujung tombak pemberantasan korupsi di Indonesia. Kita sama-sama berharap, agar semua elemen mampu memberantas korupsi dari tingkat dasar (organisasi terkecil), hingga ke pemerintahan. Kalau misalkan yang kecil saja sudah ada praktek korupsi, kenapa heran kalau pemerintahan banyak yang korupsi?
Sekian, semoga bermanfaat dan menginspirasi. Saya menulis semata-mata hanya menyalurkan pendapat saya pribadi, tanpa maksud mengkritik siapapun. Ciao..

Sabtu, 07 Maret 2020

Virus Corona di Indonesia dan Dampaknya Bagi Perekonomian Negara

Kali ini, saya akan mencoba membahas tentang suatu hal yang cukup serius. Yaitu tentang virus corolla (eh, itu mah type sedan dari salah satu brand mobil asal negeri sakura). Maksud saya, Virus Corona. (tapi bukan Corona Extra, karena kalau Corona Extra nanti mabuk, karena itu adalah produk minuman beralkohol). Yang sudah masuk ke tanah air kita, Indonesia. so, let's talk about it!
Virus Corona, yang memiliki nama COVID-19, akhirnya masuk juga ke Indonesia. hal ini pertama kali ditemukan di salah satu rumah sakit di kota Depok, Jawa Barat.Virus ini, pertama kali ditemukan dalam tubuh seorang ibu dan anaknya, yang tertular virus ini dari seorang WNA asal negeri Sakura, Naruto dan Sasuke. (lha, kok jadi bahas anime?) Bahkan, baru-baru ini, ditemukan lagi 2 orang WNI yang positif terkena virus asal negeri panda ini. Ada beberapa pertanyaan yang muncul di benak saya, dan pastinya juga di benak masyarakat semua, diantaranya adalah, Apa langkah pemerintah Indonesia dalam menangani virus ini? dan mungkin, ada juga yang bertanya soal bagaimana siasat pemerintah dalam menangani dampak Corona Virus ini, terutama dalam bidang ekonomi. Karena banyak masyarakat yang langsung berburu masker, bahan makanan, dan banyak lagi, yang mengakibatkan kebutuhan semakin mahal. Saya mungkin termasuk yang akan bertanya kepada pemerintah, mengenai pertanyaan saya yang ke 2 dalam tulisan saya ini, karena memang, Corona ini sendiri, memiliki dampak yang besar dalam perekonomian negara. Saran saya, untuk pemerintah, dalam menangani perekonomian saat ini, adalah, dengan mengadakan operasi pasar, dalam menyediakan sembako, kebutuhan pangan, dan peralatan kesehatan, guna ikut mendukung masyarakat Indonesia yang sehat. Jangan hanya memikirkan diri sendiri, dan teman-temannya, namun yang harus lebih dipikirkan adalah bagaimana cara bersinergi dengan masyarakat Indonesia agar bisa memerangi virus ini secara bersama-sama.
Semoga tulisan ini bermanfaat, dan tulisan ini semata-mata hanya merupakan opini saya sebagai masyarakat Indonesia, tanpa bermaksud mengkritik siapa pun. Ciao..

Bukan Sekadar Ijab Kabul: Menghidupkan Makna Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah dalam Pernikahan

 Hello world! Semoga sehat dan bahagia. Kali ini saya akan sedikit membahas tentang apa itu sakinah, mawaddah, wa rahmah, dalam pernikahan. ...