Kamis, 08 Oktober 2020

Omnimbus Law Diurus, Jadinya Kena Virus

 Tok, Tok, Tok! Begitulah bunyi suara palu sidang yang diketuk oleh wakil ketua DPR Azis Syamsuddin yang bertindak selaku pimpinan sidang saat pengesahan RUU Omnimbus Law (atau yang bisa disebut juga RUU Cipta Kerja). Sungguh, ini hal yang bisa dikatakan sebagai ironi bagi pemerintahan Indonesia. Entah sudah berapa kali, pemerintah membuat aturan yang kontroversial,dan menurut saya, tidak masuk akal. Saya ambil contoh, peraturan yang kotroversial itu diantaranya adalah Pilkada 2020. Jujur, memang benar, apabila orang sudah dibutakan oleh mabuk kekuasaan, maka tidak akan ada yang bisa menghentikan nafsu orang itu untuk terus berkuasa. Bahkan, kita tau, bahwa ada salah satu putra beliau yang mencalonkan diri menjadi walikota di Solo,Jawa Tengah. Belum lagi, menantu beliau, yang mencalonkan diri menjadi Wali Kota Medan ditahun ini. Sungguh miris sekali, sebuah bangsa yang katanya menganut paham demokrasi, tapi nyatanya, ada keluarga pemimpin negara yang ikut mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Ok, kita kembali lagi kepada topik utama kita, yaitu pengesahan UU Omnimbus Law (Cipta Kerja). Satu hal, yang menurut saya janggal, adalah kebijakan beristirahat pegawai yang hanya satu jam saja. Ok, kalau seandainya itu dilaksanakan (istirahatnya) hanya hari Senin sampai kamis saja, (It means, Jumat bisa dapat istirahat 1,5-2 jam guna melaksanakan sholat Jumat) tapi, nyatanya, di dalam UU tersebut tidaklah dijelaskan terkait dengan pengaturan istirahat di hari Jumat. Otomatis, banyak orang yang berpikir, bahwa istirahat di hari Jumat, tetap sama seperti hari Senin hingga Kamis (1 jam, included dengan sholat Jumat). Seharusnya, pemerintah menjelaskan, apakah istirahat makan siang di hari Jumat itu mendapatkan kelonggaran waktu (entah 1,5 atau 2 jam) guna melaksanakan sholat Jumat bagi umat Islam. Jujur, menurut saya, ini sangat tidak masuk akal, dan bisa dikatakan, pasal ini merupakan pasal karet. Saya berani bilang ini pasal karet karena, memang bahasa di dalam pasal tersebut adalah multi tafsir (bisa menimbulkan berbagai macam penafsiran/pemikiran). Kalau seandainya Istirahat makan siang di hari Jumat itu benar hanya satu jam, masa iya, kita lagi mendengarkan khutbah Jumat sambil membawa laptop dan mengurus pekerjaan? Amat sangat tidak logis sekali. Esensi khutbah Jumat yang seharusnya khidmat, malah jadi tidak ada apa-apanya, dan seolah hanya menjadi pelengkap atau rukun saja. Padahal, Nabi Muhammad SAW sudah bersabda dalam haditsnya, yang memiliki arti sebagai berikut: Apabila kamu berkata kepada temanmu  "diamlah" padahal saat itu imam sedang berkhutbah, maka kamu telah kehilangan (pahala).

Ini otomatis menggugurkan ibadah Jumat kita, lantas, bagaimana Allah tidak marah kepada kita, apabila kita tidak beribadah kepada-Nya? Maka jangan heran, ketika Omnimbus Law diurus, maka yang mengurusnya, auto kena virus. Saya lansir berita dari detik.com, bahwa sudah 41 anggota dewan di DPR terkonfirmasi positif Corona dan mungkin masih akan bertambah. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pun, meminta agar gedung DPR ditutup. Jelas sekali bahwa Allah sedang marah, kepada para pemimpin yang tidak amanah, sehingga Allah kirimkan mereka virus corona.

Semoga saja, kita dijauhkan dari pemimpin yang dzalim, dan kita termasuk dalam golongan orang yang amanah. Saya menulis ini, hanya sekadar menyampaikan aspirasi dan doa saya untuk bangsa ini, dan tidak bermaksud mengkritik pihak manapun. Ciao..

Rabu, 30 September 2020

G30S PKI, Sejarah, dan Pelajaran yang Dapat Diambil

Apabila kita berbicara mengenai G30S PKI, maka akan menjadi satu cerita yang panjang. Dimulai dari isu dewan jenderal, hingga akhirnya, pembunuhan sadis yang dilakukan oleh pasukan Cakra Bhirawa yang menggegerkan seluruh Indonesia. Sebenarnya, apabila kita perhatikan, ajaran-ajaran dan praktek dari paham PKI, mungkin masih ada di Indonesia ini. Ada berita yang cukup menarik, dari CNN Indonesia, terkait dengan ajaran dan paham PKI ini yang sayang sekali jika anda lewatkan. Dimana, salah satu putri dari presiden Soekarno, yaitu Rahmawati Soekarnoputri, mengatakan bahwa, PKI menganut paham pancasila (silakan klik tulisan yang berwarna biru untuk baca beritanya).
Disini saya berpendapat, bahwa pancasila tidak mengajarkan apapun tentang komunis, dan juga pancasila bertentangan dengan paham komunis. Tapi, mengapa masih banyak dari tokoh pemerintah yang "mengikuti" paham PKI ini? Mungkin, dari statement Rahmawati Soekarnoputri diatas, dapat disimpulkan bahwa PKI masih ada di Indonesia. Maka kita, sebagai rakyat Indonesia, hendaknya bisa menghalau dan mematikan paham PKI, dengan cara mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pemimpin yang lebih baik, dan menghilangkan paham PKI yang jauh sekali dari Pancasila yang menjadi dasar negara Republik Indonesia ini.
Postingan ini, saya buat, bukan untuk mengkritik salah satu pihak, namun hanya sekadar memberikan informasi dan edukasi, tentang pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa bersejarah ini. Duka cita dan doa terbaik saya kirimkan untuk seluruh pahlawan nasional Indonesia yang telah berjasa dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia ini. Semoga mereka mendapat tempat terbaik di sisi Allah... Ciao!

Rabu, 20 Mei 2020

Definisi Kemenangan dan Kebangkitan yang Hakiki Ditengah Pandemi

Hello.. Setelah lama tidak update, karena tugas dan pekerjaan lain yang memang tidak bisa ditinggalkan, saya akhirnya bisa menulis lagi di blog ini. Kali ini, saya akan membahas tentang Kebangkitan dan kemenangan timnas Indonesia (eh, kok malah bahas bola ya?) Tapi, tenang, walaupun kita tidak membahas tentang kebangkitan dan kemenangan timnas Indonesia, kita akan membahas tentang hakikat kemenangan dan kebangkitan. Karena sebentar lagi lebaran, dan juga hari ini, 20 Mei, diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional. okay, let's start it, Now.

Setiap manusia, pasti sering mendengar perkataan: "lepas ramadhan, kita memperoleh kemenangan". Tapi sebenarnya, apa sih arti kemenangan yang dimaksud di kalimat ini? Nah arti dari kemenangan ini adalah, ketika kita bisa menang melawan hawa nafsu kita, menang melawan emosi kita, dan menang melawan diri kita sendiri. Maksud menang melawan diri sendiri, adalah ketika kita mampu, meredam keinginan yang berlebihan dari dalam diri kita.
Nah, kalau yang namanya kebangkitan ini sendiri, pastinya kita sering dengar kata-kata kebangkitan, entah itu kebangkitan bangsa, kebangkitan timnas, atau kebangkitan dari kubur. (lho, serem cuy) nah, kebangkitan ini sendiri, memiliki arti bangun dari keterpurukan, dan memperbaiki kesalahan yang pernah diperbuat, guna menjadi orang yang lebih baik lagi.
Tapi, taukah teman-teman semua, kalau misalnya kemenangan dan kebangkitan itu memiliki korelasi alias hubungan yang bisa dibilang saling berkaitan seperti aku padamu? (eh)
Hubungannya adalah, kita harus bangkit dari keterpurukan yang sedang melanda kita saat ini, untuk memperoleh kemenangan. Kenapa saya bilang kita sedang terpuruk? Karena saat ini, bisa dikatakan perekonomian kita sedang terpuruk. Sektor penyumbang terbesar dalam perekonomian negara, saat ini sedang 'dimatikan sementara'. Jadi, kita harus bangkit, dan bertahan dari kondisi ini, sehingga kita dapat memperoleh kemenangan yang gilang gemilang dari keterpurukan ekonomi dan selamat dari kehancuran negara.
Akhirnya, saya ucapkan, selamat hari kebangkitan Nasional, dan selamat Hari raya Idul fitri 1441 H, semoga Allah berkahi kita selalu.. ciao..

Rabu, 15 April 2020

Ramadhan, Corona, dan PSBB

Selamat datang lagi di Blog saya.. Setelah lama tidak update, dikarenakan tugas yang menumpuk seperti perasaan ini padamu.. (eh) saya kembali dapat menulis di blog ini. Kali ini, tema yang akan dibahas, adalah tentang Ramadhan, Corona dan PSBB. (PSBB ya, bukan PBB.. bedanya sama PBB, adalah kalau PSBB dia lebih dingin, karena pakai es..) ini dia..
Saya tertarik membahas tiga hal ini, karena beberapa hari lagi, bulan Ramadhan yang mulia, akan datang menghampiri kita. Bulan Ramadhan edisi tahun ini, akan sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, karena saat ini, kita berada dalam kondisi pandemi COVID-19. dan akibat yang ditimbulkan dari COVID-19 ini adalah berlakunya PSBB (Pada Stress Bareng-Bareng, eh.. Pembatasan Sosial Berskala Besar maksudnya). Langkah dalam melakukan pemutusan rantai virus ini pun beragam, mulai dari yang masuk di akal, sampai.. yang paling lucu.. tapi, ya sudahlah, semua akan ada hitungannya sendiri-sendiri. Satu hal yang pasti, Ramadhan akan datang sebentar lagi, Mari siapkan hati kita, semoga Allah selalu memberikan hidayah dan petunjuk kepada kita.. Saya selaku Admin dari blog ini, mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa, semoga Allah berkahi kita selalu.. dan satu hal yang tak kalah penting, semoga Corona cepat berlalu, sehingga kita dapat beribadah seperti biasa.. Ciao..

Sabtu, 14 Maret 2020

Indonesia di Lockdown, Bagaimana Nasib Negara?

Kali ini, saya tertarik untuk membahas tentang Colorna, eh Corona maksudnya. Kali ini, ada satu berita yang cukup membuat saya cukup herman. eh, heran maksudnya. Dimana pemerintah mempertimbangkan akan melakukan lockdown terhadap Indonesia. tapi, sebelum kita bahas tentang "inovasi" pemerintah ini, saya akan jelaskan sedikit tentang lockdown, dan bedanya antara isolasi dan karantina. Menurut artikel yang saya baca dari harianhaluan.comLockdown merupakan tindakan darurat atau kondisi saat orang-orang untuk sementara waktu dicegah memasuki atau meninggalkan area atau bangunan yang telah ditentukan selama ancaman bahaya berlangsung. Kemudian, saya mengutip dari KBBI Online, isolasi adalah pemisahan suatu hal dari hal lain atau usaha untuk memencilkan manusia dari manusia lain. kemudian, untuk karantina sendiri, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) karantina adalah memisahkan dan membatasi pergerakan seseorang yang terpapar penyakit, tetapi tidak memiliki gejala. Tujuannya untuk mencegah kemungkinan adanya penyebaran penyakit.
Berbicara soal Lockdown, dimana pemerintah Indonesia mempertimbangkan untuk melakukannya, (silakan klik tulisan yang berbeda warna untuk membaca beritanya ya!) saya merasa, bahwa langkah ini merupakan suatu bukti, bahwa pemerintah terlalu panik dalam menghadapi serangan virus COVID-19 ini. (ini sekadar pendapat saya, tanpa niat mengkritik siapapun) alasan saya sederhana saja, kalau negara ini di lockdown, lantas perekonomian negara ini bisa lumpuh total, dan otomatis, negara ini seperti negara "mati", tanpa adanya aktivitas dari masyarakat yang notabene ikut membantu membangun negara. Lantas, ini yang jadi pertanyaan dalam benak saya juga, bagaimana nasib negara kita? Apakah mau seperti negara yang "mati"? Atau apa? kita lihat saja, semoga pemerintah bisa matang dalam mengambil keputusan demi keberlangsungan hidup masyarakat Indonesia.
Jikalau seandainya lockdown dilakukan pun, saya berharap kepada seluruh jajaran pemerintah, agar tetap menjamin bahwa negara akan tetap baik-baik saja.
Demikian, semoga menginspirasi. ciao...

Senin, 09 Maret 2020

KPK Matikan Nilai Religiusitas? What's Next "Innovation"?

Kali ini, setelah saya membahas virus COVID-19, saya akan membahas tentang KPK yang mematikan sisi religiusitas nya. Let's talk about it!
Hari Ahad pagi, tanggal 8 Maret 2020, saya membaca satu artikel berita yang cukup menarik perhatian saya, sebagai seorang jurnalis, mahasiswa, dan juga masyarakat Indonesia. Isi artikel yang saya baca tersebut berisi tentang KPK Hapus Nilai Religiusitas dan digantikan oleh nilai sinergi. (artikel ini tayang di website tempo dengan judul: "KPK Hapus Nilai Religiusitas, Eks Penasihat Sebut Sakaratul Maut") Silakan klik tulisan berwarna ungu untuk melihat link artikelnya ya.
Saya sebagai jurnalis, mahasiswa, dan terutama masyarakat Indonesia, merasa sangat kecewa, kepada tim ahli, yang telah menghilangkan nilai religiusitas dari kode etik KPK. Hal ini otomatis, menurut pendapat saya, merupakan satu langkah yang menunjukkan, bahwa KPK sudah tidak sesuai dengan Pancasila Indonesia, Alasan saya sederhana saja, bahwa sila pertama di dalam Pancasila ini adalah ketuhanan yang maha esa, dalam sila ini, terdapat nilai religiusitas yang sangat dijunjung oleh masyarakat Indonesia. Tapi pertanyaannya, kenapa nilai religiusitas itu harus dihilangkan? Menurut saya, itu tidak perlu dihilangkan, karena menurut saya, Nilai religiusitas (Nilai ajaran agama manapun) itu harus ada di atas hukum. (religion above law). saya rasa dalam agama manapun, tidak ada diajarkan tentang korupsi, dan segala macam praktik hal-hal yang buruk. Saya sependapat dengan eks penasihat KPK, Bapak Abdullah Hehamahua yang mengatakan, bahwa matinya nilai religiusitas ini merupakan "bom waktu" kehancuran KPK.
Semoga saja, hal ini tidak terjadi, karena KPK merupakan ujung tombak pemberantasan korupsi di Indonesia. Kita sama-sama berharap, agar semua elemen mampu memberantas korupsi dari tingkat dasar (organisasi terkecil), hingga ke pemerintahan. Kalau misalkan yang kecil saja sudah ada praktek korupsi, kenapa heran kalau pemerintahan banyak yang korupsi?
Sekian, semoga bermanfaat dan menginspirasi. Saya menulis semata-mata hanya menyalurkan pendapat saya pribadi, tanpa maksud mengkritik siapapun. Ciao..

Sabtu, 07 Maret 2020

Virus Corona di Indonesia dan Dampaknya Bagi Perekonomian Negara

Kali ini, saya akan mencoba membahas tentang suatu hal yang cukup serius. Yaitu tentang virus corolla (eh, itu mah type sedan dari salah satu brand mobil asal negeri sakura). Maksud saya, Virus Corona. (tapi bukan Corona Extra, karena kalau Corona Extra nanti mabuk, karena itu adalah produk minuman beralkohol). Yang sudah masuk ke tanah air kita, Indonesia. so, let's talk about it!
Virus Corona, yang memiliki nama COVID-19, akhirnya masuk juga ke Indonesia. hal ini pertama kali ditemukan di salah satu rumah sakit di kota Depok, Jawa Barat.Virus ini, pertama kali ditemukan dalam tubuh seorang ibu dan anaknya, yang tertular virus ini dari seorang WNA asal negeri Sakura, Naruto dan Sasuke. (lha, kok jadi bahas anime?) Bahkan, baru-baru ini, ditemukan lagi 2 orang WNI yang positif terkena virus asal negeri panda ini. Ada beberapa pertanyaan yang muncul di benak saya, dan pastinya juga di benak masyarakat semua, diantaranya adalah, Apa langkah pemerintah Indonesia dalam menangani virus ini? dan mungkin, ada juga yang bertanya soal bagaimana siasat pemerintah dalam menangani dampak Corona Virus ini, terutama dalam bidang ekonomi. Karena banyak masyarakat yang langsung berburu masker, bahan makanan, dan banyak lagi, yang mengakibatkan kebutuhan semakin mahal. Saya mungkin termasuk yang akan bertanya kepada pemerintah, mengenai pertanyaan saya yang ke 2 dalam tulisan saya ini, karena memang, Corona ini sendiri, memiliki dampak yang besar dalam perekonomian negara. Saran saya, untuk pemerintah, dalam menangani perekonomian saat ini, adalah, dengan mengadakan operasi pasar, dalam menyediakan sembako, kebutuhan pangan, dan peralatan kesehatan, guna ikut mendukung masyarakat Indonesia yang sehat. Jangan hanya memikirkan diri sendiri, dan teman-temannya, namun yang harus lebih dipikirkan adalah bagaimana cara bersinergi dengan masyarakat Indonesia agar bisa memerangi virus ini secara bersama-sama.
Semoga tulisan ini bermanfaat, dan tulisan ini semata-mata hanya merupakan opini saya sebagai masyarakat Indonesia, tanpa bermaksud mengkritik siapa pun. Ciao..

Selasa, 21 Januari 2020

Zero Waste, Selamatkan Bumi, Ciptakan Kreasi

Setelah berjibaku dengan tugas saya di bidang media, (as a radio announcer, and another job that belong to me then) saya dapat kembali menyapa pembaca sekalian dengan salah satu topik bahasan yang menarik dan mendorong. Kenapa saya bilang begitu? Kali ini, saya akan membuat post yang menarik untuk dibaca, dan juga (semoga) bisa mendorong pembaca untuk lebih mencintai saya alam. Langsung saja, kita ke TKP!
Beberapa hari yang lalu, saya diajak untuk datang ke salah satu acara yang diselenggarakan oleh 107,9 RDK FM UIN Jakarta. Acara itu dilaksanakan di Panti Asuhan Al-Mubarokah, di kawasan Tangerang Selatan. Di sana, saya bersama teman-teman dari RDK FM mengadakan acara bantuan sosial dan santunan kepada Panti Asuhan tersebut. Acara tersebut, tidak hanya sekadar memberikan santunan saja, namun, ada satu hal menarik di sana. Kami diajak untuk sama-sama menyelamatkan dia bumi. Yaitu dengan cara mengkreasikan botol bekas, menjadi barang yang bermanfaat. kalau kata Ibu Eni Saeni M.Ikom dari komunitas Plastik Untuk Kebaikan, kita bisa mengubahnya dengan membuat Eco Brick. (buat yang penasaran tentang apa itu Eco Brick, silakan klik linknya yaa) Selain membahas tentang cara mengolah sampah menjadi benda yang bermanfaat, Ibu Eni juga memberi tau akibat yang ditimbulkan, apabila kita suka membuang sampah sembarangan. Beliau mengatakan, apabila kita membuang sampah sembarangan, maka kita akan terkena bencana alam yang luar biasa, baik itu banjir, maupun bencana yang lainnya. beliau juga menyampaikan, tentang peranan media massa dalam mencegah bencana alam. Beliau mengatakan, peranan media massa, yaitu dengan berkoordinasi dengan instansi terkait (BMKG, BNPB, BASARNAS, dan lainnya) dalam menyebarkan informasi tentang perkiraan kapan bencana akan tiba kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat mengantisipasi dengan cara mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Saya atas nama pribadi dan admin blog ini berterima kasih kepada crew, dan keluarga besar 107,9 RDK FM, atas ilmu yang diberikan, dan juga mengapresiasi serta mengucapkan selamat atas terselenggaranya acara Bantuan Sosial di Panti Asuhan Al-Mubarokah.
Demikian, semoga bermanfaat dan menginspirasi. ciao..  

Kamis, 02 Januari 2020

First Post on 2020, Antara Semangat Baru, dan Duka Lama

Yas, saya kembali dapat menulis di blog ini lagi, setelah mencari topik bahasan yang sedang hangat diperbincangkan, sehangat air kopi yang baru diangkat dari coffee maker nya. So, this is my first post on 2020, isn't it? Now, let's talk about New year eve, and another viral thing in Indonesia.
2020, harapan baru, semangat baru. Semua berharap yang terbaik untuk mereka di tahun kabisat episode kali ini. Dari segala macam aspek kehidupan mereka. Namun, ada satu hal menarik, sekaligus mengundang duka mendalam bagi seluruh warga di Indonesia, terutama di kawasan Jabodetabek. Wilayah ini mengalami banjir yang luar biasa hebat. Menurut informasi yang saya dapatkan dari siaran di salah satu TV swasta pada siang hari tadi, curah hujan tanggal 1 Januari 2020 kemarin bisa dikatakan cukup parah dalam kurun waktu 24 tahun terakhir. Jujur, saya menyampaikan rasa duka cita saya yang mendalam, bagi para korban yang terkena banjir. Menurut informasi yang beredar, korban tewas ada 26 jiwa. (Sumber: BBC Indonesia) (untuk yang ingin tau faktanya, silakan klik tulisan BBC Indonesia ya). Semoga saja, ini tidak terus bertambah. Saya akan membahas juga, mengenai perbedaan pendapat antara Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dengan pemerintah pusat, dalam hal ini, bapak menteri PUPR, Basuki Hadimuljono. Sebenarnya, tidak masalah dengan perbedaan itu, tapi, yang saya harapkan, adalah pemerintah mampu berkoordinasi, baik dari pusat, dan daerah, guna membantu dan bersatu menanggulangi bencana yang ada di Jabodetabek, bukannya saling menjatuhkan. Yang tidak kalah penting juga adalah bagaimana masyarakat juga ikut membantu pemerintah dalam mencegah datangnya banjir. Jangan hanya bisa mengkritik pemerintah saja, namun juga harus memberikan kontribusi nyata dalam membantu pemerintah. Pemerintah pada dasarnya, menurut sistem demokrasi yang diungkapkan oleh Abraham Lincoln: demokrasi adalah pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat (from people, for people, by people). Jadi, kalau misalkan sudah memilih pemimpin, jangan hanya bisa memaki dan menganggap pemimpin itu tidak becus, namun juga harus ada kontribusi untuk membantu pemerintah.
Semoga tahun 2020 ini, mampu membawa berkah kebaikan bagi kita semua, dan bagi saudara-saudara yang terkena banjir, semoga cepat pulih kembali, sehingga dapat beraktivitas seperti biasa. Saya atas nama pribadi, dan admin blog ini, mengapresiasi orang-orang hebat, yang berjibaku dalam membantu korban banjir Jabodetabek, kepada pemerintah provinsi DKI Jakarta, dan juga seluruh jajarannya. Semoga bencana ini cepat berlalu, dan kita dapat kembali beraktivitas normal seperti sedia kala. Ciao...

Bukan Sekadar Ijab Kabul: Menghidupkan Makna Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah dalam Pernikahan

 Hello world! Semoga sehat dan bahagia. Kali ini saya akan sedikit membahas tentang apa itu sakinah, mawaddah, wa rahmah, dalam pernikahan. ...